Sarana Prasarana Di Pulau Lae-Lae

Sejak tahun 2004 silam,  saya baru berkunjung lagi ke Pulau Lae-Lae bersama teman-teman dari kelas menulis kepo pada akhir februari 2016. Pulau lae-lae adalah salah satu gugusan pulau-pulau yang terletak di sisi barat Kota Makassar. Pulau lae-lae terletak paling dekat dengan pesisir pantai Kota Makassar, hanya berkisar 1 km dari Pantai Losari Makassar.

Waktu tempuh menyeberangi Pulau Lae-lae dari Kota Makassar terbilang cukup singkat. Kurang dari 10 menit kita sudah sampai di Pulau kecil dengan jumlah penduduk kurang dari 2000 orang tersebut. Kita bisa menyeberang dari dermaga kayu Bangkoa di Jalan Pasar ikan no. 28 Makassar hanya dengan membayar Rp.10.000 – Rp.20.000 per-orang atau dengan menggunakan speedboat melalui dermaga Popsa yang terletak di depan Benteng Rotterdam.

IMG_7457

Sepintas pulau lae-lae tidak kalah indah dengan pulau lainnya. Apalagi terdapat pemecah ombak disisi selatan pulau yang merupakan tempat terbaik menyaksikan sunset. Namun setelah menyusuri pulau ini lebih jauh kedalam dan bercengkrama dengan warga sekitar, saya menyadari pulau ini tidak jauh berbeda dengan permukiman yang ada di Kota Makassar.

Saya disambut oleh riuhnya anak kecil yang bermain inline skate, remaja pria yang berkumpul sambil melantunkan beberapa lagu pop. Ibu-ibu yang terlihat berbincang-bincang hangat di beberapa bale-bale di halaman rumah mereka sambil memakan jagung rebus. Dan tidak ketinggalan pula beberapa remaja wanita terlihat heboh menonton film India yang sedang happening itu melalu handphone mereka. Pemandangan warga dengan beragam aktivitas harian ini tidak asing bagi saya yang bermukim di Makassar. Wajar saja karena secara administratif pulau ini masih  bagian dari Kota Makassar, Kecamatan Ujung Pandang, Kelurahan lae-lae.

 

Pemukiman sendiri berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU RI No. 4/1992). Pemukiman yang baik dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang menunjang kualitas hidup warga sekitarnya.

Prasarana lingkungan pemukiman adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan pemukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Prasarana utama meliputi jaringan jalan, jaringan pembuangan air limbah dan sampah, jaringan pengadaan air bersih, jaringan listrik, telepon, gas, dan sebagainya.

Sedangkan sarana lingkungan yang dimaksud adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan serta pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya, seperti fasilitas taman bermain, olah raga, pendidikan, pertokoan, sarana perhubungan, keamanan, serta fasilitas umum lainnya.

 

Lalu, bagaimana dengan sarana prasarana di Pulau Lae-Lae ?

 

Di Pulau Lae-Lae sendiri terdapat jaringan listrik yang disuplay oleh PT.PLN (persero) wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi tenggara cabang Makassar Rayon Barat. Beroperasi mulai pukul 18:00 WITA sampai dengan pukul 06:00 WITA.

Sumber air tawar juga tersedia di Pulau ini, salah satunya di sumur depan rumah Dg. Puji salah seorang warga RW 2. Sumur ini digunakan sebagai sumber air baku untuk air bersih. Selain itu terdapat tandon-tandon yang berjarak masing-masing 50 m dari tandon satu ke tandon lainnya yang supply airnya berasal dari PDAM Kota Makassar. Menurut Ibu Agi salah seorang warga di RW 3, supply air bersih jarang dilakukan oleh pemerintah setempat, namun terdapat beberapa warga yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi berinisiatif untuk membeli tandon sendiri dan membeli air tawar dari Kota Makassar.

 

IMG_7466

 

Jaringan pembuangan air kotor yang digunakan warga untuk mengumpulkan air buangan dari kamar mandi. tempat cuci, dapur dan lain-lain dialirkan ke bak kontrol dan langsung ke sumur resapan. Air akan tersaring pada bak resapan dan air yang keluar dari bak resapan sudah bebas dari pencemaran. Air ini terus mengalir melalui got dan bermuara ke laut.

 

IMG_7471IMG_7474

 

Selain itu terdapat dua titik penampungan sampah plastik di Pulau Lae-lae yang terletak di RW 2 dan RW 3. Sampah-sampah plastik ini dikumpulkan oleh pengepul dan memisahkan sampah berdasarakan bahannya. Plastik-plastik yang mereka kumpulkan terdiri dari botol, gelas atau plastik-plastik lembaran.

Sampah gelas plastik yang bening dihargai Rp.3000 sampai Rp. 3500 perkilo. Sedangkan sampah gelas plastik yang berwarna dihargai seitar Rp. 2600 perkilo. Setelah memisah dan membersihkannya sampah-sampah ini kemudian dijual ke pencacah yang berasal dari Kota Makassar dan pencacah menjualnya ke pembuat biji plastik.

Di Pulau Lae-lae juga terdapat sarana yang dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitar. Diantaranya terdapat satu buah masjid untuk beribadah, Puskesmas, satu bangunan SD inpres Lae-lae dan Sekolah Menengah Pertama Negri 41. Yang menarik, meskipun fasilitas sekolah dan kesehatan sudah tersedia dengan baik, banyak warga yang menyekolahkan anak-anaknya atau memeriksakan kesehatannya di Kota Makassar.

“kah disini terus jeki, itu terusji juga temanta, bosanki” ujar ali, seorang anak yang berusia 11 tahun.

 

Setelah menyantap makan siang dari hasil melaut salah satu warga, saya kembali menyisiri pulau tersebut. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah rumah Dg. Singara. Rumah ini adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu seperti rumah tradisional Bugis – Makassar pada umumnya.tampak berbeda dengan rumah lainnya yang berada disekitar pulau yang dominan sudah menggunakan batu bata sebagai dindingnya. Menurut warga sekitar, rumah Dg. Singara ini adalah satu-satunya rumah warga yang masih terjaga keasliannya.

Daeng Singara kemudian bercerita jika rumah kayu miliknya ini awalnya terbuat dari bambu. “tapi bambu tidak bisa bertahan lama, empat sampai lima tahun rubuhki lagi”

 

Seorang perempuan berusia 45 tahun ini merupakan salah satu warga di RW 3 Pulau Lae-lae. Aktifitas sehari-harinya adalah menjaga pondok-pondok yang disewakan kepada para wisatawan. Diapun melanjutkan ceritanya bersusah payah ia mengumpulkan uang untuk membangun sebuah rumah impian yang memiliki ciri khas suku Bugis dan Makassar.

 

“Jadi pas ada uangku, saya beli kayu dua belas ribu di Barrang Lompo, papan lima ribu, tripleks lima ribu, balok-balok juga enam ribu. Terus ambilka tukang dari Maros, kukasihkan upah Rp.750.000 sampai jadi rumahku”. Seperti yang kita ketahui rumah traditional bugis biasanya sangat ditentukan oleh keahlian panrita bola (arsitek traditional bugis). Namun untuk rumah-rumah rakyat cukup dikerjakan oleh panre bola (tukang rumah).

 

IMG_7479

 

seperti rumah tradisional bugis Makassar lainnya, rumah Daeng Singara ini ditopang oleh tiang-tiang kayu yang langsung ditanamkan pada tanah sebagai struktur rumah dan struktur pengisi. Terdapat pula poci bola dimana orang pertama kali menaruh tiangnya.

saoraja dan bola terdiri atas rakkeang (atap0, le bola (badan) dan riawa bola (kaki/kolong).

konstruksi atap (rakkeang) berbentuk pelana dengan kemiirngan 45 derajat yang sesuai untuk daerah tropis.

Arsitektur traditional tetap diperlukan terutama bagi masyarakat yang masih terikat pada adat dan kepercayaan lama. Seni arsitektur seyogyanya membahagiakan penghuninya sekaligus menyentuh rasa diri sebagai manusai pada utuhnya

 

Bagaimanapun kehidupan terus berjalan dan kebudayaan senantiasa berkembang mengikuti zamannya. Karena perencanaan yang berdasarkan prinsip-prinsip arsitektur traditional akan memberi warna dan nuansa yang bercirikan kepribadian Indonesia.

 

Kesederhanaan dan konstruksi memudahkan masyarakat pemakainya untuk menyesuaikan rumah mereka menurut pola kehidupan modern. Hal-hal baru yang diterima masyarakatnya dengan sadar dan dipertahankan secara khakiki. Oleh karena itu rumah traditionl bugis dan Makassar tetap dapat menyatu dengan seluruh aktivitas kehidupan masyarakatnya hingga kini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s