Sushi Bizkid Si Yatai Pertama Di Makassar

“Happy sushi time \^o^/“ sapaan akrab dari mimin di media sosial kepada pelanggan-pelanggan setia Sushi Bizkid. Sushi Bizkid adalah kedai sushi dengan konsep yatai/angkringan pertama di Makassar.

Sebelum memulai bisnisnya Ashari Ramadhan, owner Sushi Bizkid terlebih dahulu memulai perjalanan bisnisnya melalui sosial media yaitu twitter. Dengan memberi informasi tentang makanan Jepang melalui jejaring media sosial tersebut. Tak disangka, respon dari netizen begitu antusias menunggu gerai Sushi Bizkid dibuka.

Sayapun mencoba membuatnya mengingat kembali, saat ia pertama kali membuat gerai sushi tersebut. Padanan baju berkerah merah yang dikenakannya malam itu terlihat sepadan dengan nuansa warna merah – hitam yang dipilihnya untuk logo Sushi Bizkid.

“Merah diambil dari warna ikan salmon, hitam diambil dari warna nori (rumput laut lembaran)” katanya sambil menyeruput kopi.

Menurut Khadijah Herdayani, salah seorang psikolog asal Makassar, warna merah biasanya diidentikkan dengan warna cerah. Dari ilmu psikologi, warna merah dapat berfungsi untuk mengintensifkan atau membangkitkan gairah apapun. Dengan menggunakan warna merah dalam sebuah logo, secara psikologis menimbulkan keinginan yang sangat besar kepada pelanggan sehingga mereka berpikir untuk ingin mencoba produk tersebut.

Demikian juga dengan penggunaan warna hitam pada logo Sushi Bizkid, kesan elegan dan tegas timbul untuk memberi kesan kekuatan. Semakin banyak menggunakan warna hitam, semakin menegaskan bahwa brand yang dimiliki Sushi Bizkid adalah brand yang kuat.

Lebih lanjut Ramabizkid sapaan akrab owner Sushi Bizkid ini menceritakan alasannya memilih konsep yatai/angkringan yang pada tahun 2012 belum terlalu populer di Makassar.

“Saya ingin para pelanggan datang tanpa rasa was-was karena takut membayar mahal untuk satu porsi sushi, seperti di restoran sushi lainnya. Dengan konsep yatai atau angkringan, pelanggan jadi merasa lebih santai untuk nongkrong dengan teman-teman dan sahabat tanpa harus merasa risih karena sedang makan di restoran mahal”.

Yatai dalam bahasa Jepang berarti warung kaki lima, stand, booth atau bisa juga disebut warung angkringan. Biasanya yatai beraktifitas pada musim semi di pinggir-pinggir jalan Jepang dan memulai berjualan pada sore hari dan tutup pada malam hari atau bahkan biasanya ada yang buka sampai subuh. Hal ini juga yang diadopsi Sushi Bizkid dengan memulai jam operasional pada jam 4 sore sampai jam 10 malam.

Suasana yatai di kedua cabang Sushi Bizkid, Jl. Hajibau dan Jl. A.P.Pettarani, begitu kental dengan kehadiran sebuah gerobak berbahan dasar kayu solid. Tidak tampak seperti gerobak-gerobak lainnya yang berbahan dasar multipleks yang dilapisi pelapis finishing furniture seperti HPL (High Pressure Laminated) atau dicat duco. Gerobak versi Sushi Bizkid terlihat lebih natural dengan menampakkan urat kayu solidnya.

Gerobak dengan bendera bernuansa Jepang di kedua sisi kiri dan kanan atasnya ini difungsikan oleh dua orang penggulung sushi untuk membuat pesanan sushi dari para pelanggan. Dengan tinggi meja kerja 90 cm dari lantai, sudah sesuai dengan tinggi standard area kerja sehingga cukup membuat nyaman para penggulung sushi untuk melakukan pekerjaannya selama 6 jam kerja setiap harinya.

Salah satu elemen interior yang cukup menarik perhatian saya di setiap restoran atau kafe yang saya datangi adalah pemilihan pencahayaannya. Karena faktor pencahayaan merupakan salah satu elemen penting sebagai alat penggugah selera pada restaurant atau kafe. Dengan kualitas pencahayaan yang baik makanan bisa terlihat lebih lezat. Sushi Bizkid sendiri banyak menggunakan cahaya dengan warna hangat sehingga menciptakan suasana yang lebih nyaman dan intim sehingga membuat pengunjungnya betah berlama-lama.

Untuk penataan ruangnya sendiri, saya melihat Sushi Bizkid konsisten membagi ruangannya dalam tiga zona pada kedua cabangnya. Zona pertama adalah area public yang merupakan area makan untuk para pelanggan sushi. Yang kedua adalah area private dimana gerobak sushi ditempatkan pada area disini. Dan terkahir adalah area service yaitu bagian dapur untuk meracik beberapa menu minuman dan makanan seperti The Bizkid Ramen dan Katsu Teriyaki Rice, yang merupakan salah satu menu favorit di Sushi Bizkid.

Tidak terasa saya telah menghabiskan dua porsi Tuna Cheese Roll dan Dragon Roll selama mengobrol dengan Ramabizkid tentang suasana yang sengaja ia bangun untuk kenyamanan para pelanggan Sushi Bizkid. si sushi yatai pertama di Makassar.

Oh iya, sekedar informasi,  saya hanya membayar kurang dari limapuluh ribu rupiah untuk 2 porsi sushi dan satu minuman dingin. Wahh .. Benar-benar sesuai taglinenya ya  “sushi enak gak bikin bokek!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s