Wajah Pedestrian di Kota Makassar

Itu nanti tempat untuk jualan pisang epe kata Ibu Titi sembari menunjuk arah ke pekerjaan bahu  jalan di Jalan Haji Bau, Makassar. Entah dari mana awal mulanya sehingga beredar kabar, jika pekerjaan penutupan saluran pembuangan/got sepanjang ruas Jalan Haji Bau dan Jalan Monginsidi akan digunakan para pedagang kaki lima untuk menjajakan makanan khas Kota Makassar ini. 

“Parkirnya gimana nanti ya bu?” Pertanyaan pertama saya yang terlintas di kepala saat mendengar ibu separuh baya itu menceritakan informasi yang masih simpang siur dia dengar.  “Ah nda taumi itu bisaji nanti diatur, yang jelas enakmi nanti karena ramaiki di sini jawab Ibu Titi yang saat itu sedang berjualan minuman kemasan bersama dua orang anaknya di sepanjang Jalan Hajibau.

Dalam hati terus bertanya-tanya, untuk apa pemerintah Kota Makassar, menutup got lalu dijadikan lahan jualan para pedagang kaki lima? karena menurut saya kebijakan ini hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru. Pengelolaan sampah dan pengelolaan parkir mungkin tidak seberapa dibanding masalah-masalah lain yang akan timbul.

 Ah , mungkin untuk pedestrian bu”, tandasku.

“Pedestrian? Apa itu pedestrian bu?” tanya Ibu Titi yang terlihat bingung dengan istilah yang baru saja saya sebut.

—-

 

Pedestrian merupakan fasilitas bagi para pejalan kaki. Menurut Pignataro (1973), karakteristik dari pengguna jalur pejalan kaki dan daerah yang direncanakan sebagai jalur pejalan kaki untuk tujuan meminimalisasi konflik antara arus pejalan kaki dan arus kendaraan, meningkatkan keselamatan bagi pejalan kaki dan mengurangi penundaan arus lalu lintas.

Di Makassar sendiri, mobilitas penduduk dari suatu tempat menuju tempat yang lain sangat tinggi sehingga seringkali menunjukkan konflik antara para pejalan kaki dengan arus lalu lintas kendaraan. Namun menurut saya, sebagian besar fasilitas pejalan kaki di Kota Makassar cenderung tidak memadai. Beralih fungsi menjadi area parkir dan digunankan para pedagang kaki lima untuk berjualan, secara tidak langsung menyebabkan para pejalan kaki harus rela berjalan pada jalur yang tidak semestinya dan tidak dapat menjamin keamanan serta keselamatan diri para pejalan kaki tersebut.

Setelah melakukan pengamatan singkat di beberapa titik jalan di Kota Makassar, yaitu Jl. A.P Pettarani, Jl. Haji Bau, & Jl. Jendral sudirman , saya melihat ada beberapa kondisi yang umumnya tersebar di ruas jalan Kota Makassar. Diantaranya adalah sebaran trotoar yang tidak merata. Pembangunan dan perbaikan lebih sering dilaksanakan pada beberapa titik dengan pertimbangan kepadatan pengguna yang tinggi dan fungsi bangunan yang berhadapan langsung dengan trotoar tersebut.

Trotoar yang sudah ada belum menjadi sebuah kesatuan dengan sistem transportasi. Lintasan yang dibentuk dari jalur trotoar belum dapat mengakomodir kebutuhan pengguna yang disesuaikan dengan guna lahan disekitarnya. Penyediaan trotoarpun masih terbatas dan umumnya berada pada jalan primer dan kolektor dengan rute angkutan umum yang tetap dan aktivitas kendaraan besar.

Belum lagi volume pejalan kaki dan mobilitas tinggi pada suatu kawasan tidak menjadi pertimbangan sehingga seringkali trotoar yang dibuat lebar justru bersifat mubazir dan sebaliknya. Umumnya dimensi trotoar yang ada disesuaikan dengan ketersediaan lahan pada sisi jalan dan alokasi ketersediaan dana dari pemerintah yang tidak sesuai dengan pelaksanaannya.

Anggraeni (29 tahun), seorang karyawan bank swasta juga berbagi pengalaman atau lebih tepatnya curcol (curhat colongan) tentang aktivitasnya berjalan kaki hampir setiap hari sepulang kantor dari Jl.Ahmad Yani menuju Jl.Jendral Sudirman, Makassar.

“Jalur pedestriannya terputus-putus dan lebih banyak terpakai untuk parkir motor, becak atau gerobak jualan. Belum lagi kalo tiba-tiba ada (maaf) orang gila atau pengemis duduk-duduk, bayangkan ki’ itu kalau pakai high heels ka’ panas-panas baru banyak paving block yang ompong-ompong kondisinya”, ketusnya sambil menghabiskan pisang epe’ yang sedari tadi dipesannya.

Lalu pertanyaan-pertanyaan dasar lainnya yang sering terlontar di masyarakat tentu saja seputar apa saja yang pemerintah kota lakukan demi perbaikan salah satu fasilitas publik seperti ini. Apakah ini wajah kota dunia?

Danny Pomanto, walikota Makassar melalui situs Pemerintah Kota Makassar (makassarkota.go.id) mengatakan bahwa tahun 2016 pemerintah Kota Makassar akan fokus pada perbaikan infrastruktur dan menyiapkan dana Rp. 50 miliar untuk menyulap pedestrian di kota ini agar fungsinya bukan hanya untuk berjalan kaki tetapi juga menjadi tempat wisata bagi wisatawan yang datang ke Kota Makassar.

Pada artikel berbeda di harian Berita Kota Makassar juga menyebutkan bahwa personel Satpol PP Pemerintah Kota Makassar segera melakukan penertiban pedagang kaki lima (PK5) yang berjualan di atas trotoar. Pemerintah setempat dalam hal ini lurah dan camat harus tegas memberikan surat teguran kepada PK5 yang beraktivitas di trotoar jalan.
“Sesuai regulasi atau protap yang ada, lurah harus memberikan peringatan pertama sebanyak dua kali dan disusul dengan peringatan dari camat. Dan jika para PK5 tidak mendengar teguran yang diberikan dari lurah dan camat, Satpol PP langsung turun melakukan penertiban tanpa negosiasi lagi,”

Kedua artikel diatas cukup menunjukkan adanya perhatian pemerintah Kota Makassar untuk menata pedestrian agar bisa sesuai dengan salah satu prinsip perancangan ruang publik (termasuk jalur pejalan kaki). Hal ini sudah sesuai dengan Darmawan(2005) dalam Urban Design Plan of San Fransisco, di mana kenyamanan (amenity comfort) yang menekankan pada kualitas lingkungan kota dengan mengakomodasi pola pedestrian dan dilengkapi dengan street furniture, tanam-tanaman, desain jalan yang terlindung dari cuaca, menghindari silau, dan sebagainya.

Data dari Andi Annisa Amalia yang saat ini sedang berprofesi sebagai dosen di Jurusan Arsitektur Universitas Muhammadiyah Makassar, menunjukkan rencana penyebaran trotoar di Kota Makassar.

pd 4

Beliau juga menambahkan bahwa untuk merencanakan suatu jalur pejalan kaki yang memenuhi unsur-unsur keamanan, keselamatan dan kenyamanan bagi penggunanya harus juga diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaannya. Diantaranya adalah dimensi dengan tinggi bebas yang tidak kurang 0, 25 meter dan lebar jalur pejalan kaki harus ditambah jika pada jalur tersebut terdapat perlengkapan jalan (road furniture) seperti patok rambu lalu lintas, kotak surat, pohon peneduh atau fasilitas umum lainnya.

Struktur dan kemiringan juga penting. Permukaannya harus rata dan mempunyai kemiringan melintang 2-4 % supaya tidak terjadi genangan air. Jenis material yang digunakan untuk prasarana dan sarana jaringan pedestrian juga disarankan berupa bahan yang dapat menyerap air dan menghindari penggunaan material yang licin.

Selanjutnya adalah ketersediaan fasilitas bagi pejalan kaki agar tercipta kenyamanan dan meningkatkan minat dalam berjalan kaki. Fasilitas yang dimaksud antara lain ketersediaan jalur hijau, drainase untuk mencegah genangan air hujan, lampu penerangan agar mengurangi tingkat kriminalitas pada jalur pedestrian utamanya pada malam hari, tersedia tempat duduk pada area istirahat, pagar pengaman, tempat sampah, marka, perambuan, papan informasi (signage), halte bus/shelter dan lapak tunggu, serta fasilitas difabel.

Fasilitas difabel dianggap penting karena fasilitas pejalan kaki dibangun untuk dimanfaatkan oleh semua pihak tidak terkecuali bagi penyandang cacat. Bagi orang yang memiliki keterbatasan indera penglihatan dan sering berjalan di zona tertentu, maka mereka dapat menggunakan suara dari gedung yang berdekatan sebagai orientasi. Bagi tuna netra, pengguna tongkat dapat berjalan dengan jarak antara 0,3 meter hingga 1,2 meter dari bangunan.

Dengan banyaknya teori-teori tentang jalur pedestrian diharapkan pemerintah Kota Makassar dapat mengolah data-data yang sudah ada sebelumnya untuk disesuaikan dalam perencanaan ruang publik dan infrastruktur Kota Makassar yang dimulai pada tahun 2016 ini. Sehingga tidak terjadi pembangunan yang hanya sebatas syarat menuju kota Dunia saja, tetapi benar-benar untuk kepentingan masyarakat kota Makassar pada umumnya.

 

 

 

Sumber: http://rakyatku.com/2015/12/28/news/jalan-boulevard-akan-disulap-mirip-la-rambla-barcelona.html

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s