Pikir Baik-baik Sebelum Jadi Arsitek!

 

“Pikir baik-baik sebelum jadi arsitek nak!” kata Etta saya sekitar 12 tahun lalu sebelum mendaftar Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) kala itu. Saya sendiri tidak yakin bisa lulus di Jurusan Arsitektur Unhas. Menjadi seorang arsitek adalah cita-cita saya sedari kecil. “Tapi, pasti lulus!” tambahnya. Dan ya, benar saja, saya lulus dan kekhawatiran bapak saya dimulai.

 

———–

workshop63_636

Di semester satu selain Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), kita belajar dasar-dasar tentang arsitektur seperti Pengantar Arsitektur, Teori Arsitektur, dan Estetika Bentuk. Dengan tujuan untuk membangun sensibilitas mahasiswa mengenai arsitektur secara perlahan-lahan. Tentunya saya sebagai mahasiswa semester awal saat itu sangat antusias dengan proses belajar mengajar yang tidak hanya mengandalkan otak saja, tapi juga keterampilan tangan, mata dan pikiran. Dan ini merupakan hal yang berkesinambungan dan sangat mengasyikkan saat membuat dan mengenal berbagai ragam bentuk, dimensi, proporsi, komposisi, dll.

Pada semester-semester berikutnya, tantangan untuk menjadi calon arsitek ternyata tidak mudah. Mata kuliah yang tadinya di kelas, berganti dengan sistem studio. Metode pengajaran yang dilakukan dengan cara studio ini memberi kesempatan pada kita untuk mengenal masalah-masalah yang akan dihadapi. Menulis, mendesain, menggambar, menyelesaikan masalah dan mendapatkan solusi adalah hal-hal yang tidak bisa dihindari dan dibatasi karena semua itu adalah proses berpikir.

Proses berpikir ini tidak hanya dilakukan di dalam studio, tapi di mana saja, sambil makan di restaurant, sambil ngopi, bahkan sambil menonton film pun kita terus membicarakan tentang arsitektur dan tugas-tugas yang menimpa kita setiap hari. Kerja kelompok, begadang semalaman membuat konsep, membuat maket, menyelesaikan gambar adalah asupan harian yang kita dapatkan dari pagi sampai ketemu pagi. Tidak sedikit teman saya yang jatuh sakit atau berguguran di tengah jalan, karena tidak sanggup melanjutkan kuliah di Jurusan Arsitektur.

Dikejar banyak deadline, menjadi sulit ditemui karena selalu banyak tugas, asistensi yang tidak ada habisnya, tidak begitu saja dijadikan alasan untuk menyerah pada tugas-tugas tersebut. Ada rasa tanggung jawab untuk selalu mencari banyak informasi dan menjadikan karya kita semakin baik meskipun harus diselesaikan dengan waktu yang terbatas.

Mungkin juga karena didasari oleh rasa suka pada arsitektur yang pada akhirnya mengalahkan semuanya. Termasuk kejenuhan karena kita mengikuti passion. Secara tidak langsung, tugas tugas ini melatih diri untuk memiliki mental yang tangguh. Di dunia kerja, arsitek harus siap menghadapi kerewelan klien, menghadapi tukang-tukang di lapangan dan mengatur jalannya sebuah proyek.

Tapi kenapa arsitektur begitu menarik sampai membuat kita sanggup untuk tidak tidur berhari-hari? karena arsitektur bukan hanya sebagai tempat bernaung, tapi tentang kehidupan, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan manusia. Arsitek dituntut untuk menjadi seorang perancang bangunan yang mengatasi masalah paling privat, masalah lingkungan, sampai masalah-masalah perkotaan.

Arsitektur adalah ilmu yang paling komprehensif dan paling lengkap dibanding pendidikan lain. Misalnya seorang arsitek diminta mendesain sebuah rumah sakit, arsitek perlu tahu: klasifikasi rumah sakit, manajemen rumah sakit, kualitas pelayanan, kebutuhan dan fasilitas-fasilitas rumah sakit. Setelah itu ia pun perlu tahu batasan antara ruang, material, struktur, cahaya, penghawaan, dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebuah bangunan karya arsitek bisa menjadi alat untuk character building. Berbeda lagi pendekatan yang dilakukan oleh arsitek saat ia diminta untuk mendesain sebuah bengkel, kantor, apartemen dan lain sebagainya. Hal ini membuat seorang arsitek juga kaya akan ilmu pengetahuan.

Ada hubungan yang erat antara ide, gagasan dan bagaimana mewujudkan karya rancangan, sehingga diperlukan keterampilan dan pemahaman tentang bagaimana cara kita mengerjakannya. Bukan hal yang mudah untuk mengkombinasikan keteknikan dengan seni. Diperlukan keterbukaan pikiran (open mind) untuk melaksanakannya, karena sering kali kita merencanakan sesuatu yang belum tentu ada atau membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Kadang saya bertanya, untuk apa melakukan itu? Untuk siapa? Menjadi arsitek bukan untuk diri sendiri , arsitek melakukan perubahan dan membuat perbaikan kehidupan bagi pihak lain, menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Selalu ada tanggung jawab sosial yang perlu diperhatikan di setiap rancangan, karena akan sangat mengganggu jika solusi yang kita rencanakan ternyata menjadi masalah di masa mendatang.

Pertanggung jawabanpun tidak hanya kepada masyarakat, dan pemangku kepentingan tetapi kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Beban inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran bapak saya. Arsitek adalah perencana dan jika ia gagal merencana, berarti ia merencanakan kegagalan.

 

‘Arti kata  etta atau tetta/petta 
    adalah suatu panggilan khusus 
    dalam kerabat bugis makassar
    yang merupakan panggilan 
    mulia dan agung, dan hanya 
    berlaku pada kalangan bangsa-
wan bugis konjo makassar. 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pikir Baik-baik Sebelum Jadi Arsitek!

  1. Pernah juga bermimpi jadi arsitek, sudah jalan setengah, tapi mentok jadi tukang gambar saja
    lalu menemukan jalan lain yang lebih memikat hihihi

    tulisan yang bagus, memang masih perlu perbaikan tapi pasti akan jadi lebih bagus kalau konsisten menulis
    teruskan Mambiz!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s